Review Film Eddie the Eagle. Film Eddie the Eagle yang dirilis pada 2016 tetap menjadi salah satu komedi olahraga paling menghangatkan hati hingga akhir 2025, sering direkomendasikan sebagai cerita underdog yang penuh tawa dan inspirasi. Diarahkan Dexter Fletcher, film ini terinspirasi kisah nyata Eddie Edwards, atlet ski jump Inggris yang jadi sensasi Olimpiade Musim Dingin 1988 di Calgary meski finis terakhir. Dibintangi Taron Egerton sebagai Eddie dan Hugh Jackman sebagai pelatih fiktifnya, Eddie the Eagle berhasil gabungkan humor ringan, aksi lompatan mendebarkan, dan pesan ketabahan yang timeless. Di era di mana semangat Olimpiade masih jadi simbol mimpi besar, film ini terasa semakin menyegarkan sebagai pengingat bahwa berani coba saja sudah kemenangan. BERITA VOLI
Plot dan Semangat Underdog yang Menular: Review Film Eddie the Eagle
Cerita mengikuti Michael “Eddie” Edwards, pemuda Inggris yang sejak kecil obsesi jadi atlet Olimpiade meski tak punya bakat alami atau dukungan finansial. Setelah gagal di berbagai cabang, ia pilih ski jump—olahraga yang hampir tak ada di Inggris—dan latih diri sendiri dengan peralatan seadanya. Ia lolos kualifikasi Olimpiade hanya karena tak ada pesaing dari negaranya, lalu berlatih intensif dengan pelatih eksentrik Bronson Peary.
Plot ini penuh momen lucu seperti Eddie jatuh berulang kali tapi bangkit lagi, sambil tunjukkan prasangka dari komite olahraga yang anggap dia memalukan. Adegan lompatan dari berbagai ketinggian dibuat mendebarkan dengan slow-motion dan sudut kamera kreatif. Di 2025, narasi ini masih menginspirasi karena tekankan bahwa Olimpiade bukan hanya untuk yang terbaik, tapi juga untuk yang berani bermimpi dan beri segalanya meski peluang kecil.
Penampilan Aktor dan Humor yang Pas: Review Film Eddie the Eagle
Taron Egerton tampil brilian sebagai Eddie—dari gerakan canggung, kacamata tebal, hingga senyum polos yang buat karakter ini langsung dicintai. Ia tangkap esensi Eddie sungguhan: optimis berlebih, tak kenal menyerah, dan penuh humor self-deprecating. Hugh Jackman sebagai Peary, mantan jumper Amerika yang sinis tapi akhirnya tergerak, beri kontras sempurna—cool, berpengalaman, tapi punya luka masa lalu sendiri.
Chemistry keduanya jadi nyawa film: dari sesi latihan penuh ejekan jadi ikatan mentor-murid yang hangat. Iris Berben sebagai pemilik penginapan dan Christopher Walken sebagai pelatih lama Peary tambah warna pendukung. Fletcher arahkan dengan ritme cepat, campur humor slapstick seperti jatuh Eddie dengan momen emosional seperti dukungan ibunya, buat film terasa ringan tapi bermakna.
Produksi dan Pesan Positif Olimpiade
Diproduksi dengan lokasi di Jerman dan Inggris untuk simulasi arena ski, film ini tangkap nuansa era 1980-an dengan kostum, musik synth, dan semangat Olimpiade yang kental. Rekreasi lompatan 70 dan 90 meter dibuat realistis dengan stunt dan CGI minimal, beri rasa bahaya tanpa berlebihan. Musik latar upbeat tambah energi, sementara narasi voice-over Eddie beri sentuhan pribadi.
Pesan utama bahwa “bukan menang yang penting, tapi ikut serta” sesuai filosofi Olimpiade, tapi film tambah lapisan tentang lawan prasangka kelas dan olahraga elit. Di akhir 2025, ketika akses olahraga semakin jadi isu, Eddie the Eagle ingatkan bahwa semangat amatir bisa ubah persepsi dunia. Meski ada kritik karena romantisasi berlebih dan karakter pelatih fiktif, film ini sukses dapat rating positif dan jadi favorit keluarga.
Kesimpulan
Eddie the Eagle adalah komedi olahraga yang sempurna gabungkan tawa ringan, aksi mendebarkan, dan pesan ketabahan yang menyentuh hati. Dengan plot underdog klasik, penampilan Egerton dan Jackman yang memukau, serta produksi energik, film ini lebih dari hiburan—ia inspirasi bahwa mimpi tak kenal batas fisik atau sosial. Di 2025, film ini layak ditonton ulang sebagai pengingat bahwa berani lompat meski takut jatuh sudah jadi kemenangan besar. Bagi penggemar cerita motivasi atau komedi feel-good, Eddie the Eagle tetap jadi pilihan menghibur yang penuh semangat dan kehangatan.