Review Film: Grave of the Fireflies (1988)

Review Film: Grave of the Fireflies (1988)

Review Film: Grave of the Fireflies Jika My Neighbor Totoro adalah representasi dari keajaiban masa kecil yang murni, maka saudara kandung sinematiknya yang dirilis pada tahun yang sama, Grave of the Fireflies (Hotaru no Haka), adalah representasi dari hilangnya masa kecil tersebut secara brutal. Disutradarai oleh Isao Takahata—pendiri Studio Ghibli lainnya selain Hayao Miyazaki—film ini sering disebut sebagai salah satu film perang terbaik sepanjang masa, sekaligus “film terbaik yang tidak akan pernah ingin Anda tonton untuk kedua kalinya.”

Diadaptasi dari cerita pendek semi-otobiografi karya Akiyuki Nosaka, film ini berlatar di Kobe, Jepang, pada bulan-bulan terakhir Perang Dunia II. Tidak ada pahlawan yang gagah berani, tidak ada strategi militer, dan tidak ada kemenangan. Yang ada hanyalah realitas suram dari “kerusakan tambahan” (collateral damage): dua anak yatim piatu, Seita dan adik perempuannya yang berusia 4 tahun, Setsuko, yang perlahan-lahan kalah dalam pertempuran melawan kelaparan dan ketidakpedulian masyarakat di sekitar mereka.

Potret Perang Tanpa Filter

Kekuatan terbesar Grave of the Fireflies adalah kejujurannya yang tak kenal ampun. Film animasi sering kali dianggap sebagai medium eskapisme, namun Takahata menggunakan medium ini untuk menampilkan realisme yang mengerikan. Dari adegan pembuka di mana Seita berkata, “21 September 1945… itulah malam aku mati,” penonton sudah diberitahu bahwa tidak akan ada akhir bahagia. Kita tidak menonton untuk melihat apakah mereka selamat; kita menonton untuk menyaksikan bagaimana mereka hidup dan mati.

Penggambaran serangan udara bom incendiary (bom bakar) digambarkan dengan detail yang menakutkan. Langit yang merah membara, rumah-rumah kayu yang menjadi abu, dan mayat-mayat korban luka bakar ditampilkan tanpa sensor yang biasanya diterapkan pada animasi. Namun, horor sesungguhnya dalam film ini bukanlah bom itu sendiri, melainkan apa yang terjadi setelahnya: runtuhnya struktur sosial. Tetangga menjadi dingin, kerabat menjadi pelit, dan anak-anak dibiarkan mati kelaparan di jalanan sementara negara terus meneriakkan slogan patriotisme.

Simbolisme Kunang-Kunang dan Kaleng Permen

Judul film ini merujuk pada salah satu adegan paling puitis namun menyedihkan dalam sejarah sinema. Seita dan Setsuko menangkap kunang-kunang untuk menerangi tempat perlindungan mereka di gua bekas serangan udara. Cahaya kunang-kunang itu indah, namun cepat mati keesokan paginya. Saat Setsuko mengubur serangga-serangga mati itu, ia bertanya, “Mengapa kunang-kunang harus mati begitu cepat?” Pertanyaan polos ini menjadi metafora sentral film tentang rapuhnya nyawa anak-anak di masa perang.

Objek lain yang menjadi ikon film ini adalah kaleng permen buah Sakuma Drops. Kaleng logam itu adalah satu-satunya harta berharga Setsuko, simbol terakhir dari kegembiraan dan kemewahan masa kecil yang normal. Suara permen yang beradu di dalam kaleng menjadi penanda waktu yang menyakitkan: dari penuh, menjadi kosong, hingga akhirnya diisi oleh Seita dengan air untuk melarutkan sisa rasa manis, dan pada akhirnya, diisi dengan serpihan tulang adiknya. Transformasi fungsi objek ini adalah storytelling visual yang menghancurkan hati. (info musik)

Tragedi Kebanggaan dan Isolasi Review Film: Grave of the Fireflies

Banyak kritikus Barat melihat film ini sebagai pesan anti-perang yang kuat. Namun, sutradara Isao Takahata sendiri menyatakan bahwa ia ingin menyoroti isolasi sosial. Seita, sang kakak, sering kali dikritik karena keputusan fatalnya. Karena harga dirinya yang tinggi dan rasa tersinggung terhadap bibinya yang kejam (namun pragmatis), Seita memilih membawa adiknya pergi untuk hidup sendiri di gua.

Keputusan ini, meskipun didasari cinta untuk melindungi kebahagiaan adiknya, pada akhirnya adalah jalan menuju kehancuran. Seita adalah seorang remaja yang dipaksa menjadi kepala keluarga tanpa keterampilan bertahan hidup yang memadai di tengah kelangkaan pangan. Film ini tidak menganggap Seita sebagai pahlawan suci; ia digambarkan sebagai anak laki-laki yang keras kepala, naif, dan menjadi korban dari sistem pendidikan militeristik yang menanamkan kebanggaan semu di atas realitas bertahan hidup. Kompleksitas inilah yang membuat tragedinya terasa sangat manusiawi dan frustasi untuk ditonton.

Visual Ghibli yang Indah namun Menyakitkan

Secara artistik, film ini sangat memukau. Kontras antara keindahan alam Jepang—sawah hijau, pantai yang tenang, dan malam berbintang—dengan tubuh anak-anak yang semakin kurus dan penuh luka menciptakan disonansi kognitif yang kuat. Teknik outline karakter yang digunakan berwarna cokelat (bukan hitam pekat seperti anime biasa) memberikan kelembutan pada visualnya, seolah-olah kita sedang melihat kenangan lama yang memudar.

Kesimpulan Review Film: Grave of the Fireflies

Secara keseluruhan, Grave of the Fireflies adalah sebuah mahakarya humanis. Film ini memaksa penonton untuk menatap wajah asli perang: bukan medali atau kemenangan, melainkan anak kecil yang membuat bola nasi dari tanah karena halusinasi akibat malnutrisi yang parah.

Ini adalah film yang sangat penting, namun membutuhkan kesiapan mental untuk menontonnya. Ia akan menguras air mata Anda, menghancurkan hati Anda, dan meninggalkan lubang emosional yang dalam. Namun, justru karena rasa sakit itulah film ini harus ditonton setidaknya sekali seumur hidup—sebagai pengingat abadi bahwa dalam setiap konflik orang dewasa, anak-anaklah yang selalu membayar harga termahal. Sebuah elegi yang sunyi, indah, dan tak terlupakan.

review film lainnya ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *