Review Film The Gleaners and I. Di akhir 2025, saat isu limbah makanan dan hidup minimalis lagi ramai dibicarakan, The Gleaners and I kembali muncul seperti tamu tak diundang yang membawa kebijaksanaan sederhana. Dirilis tahun 2000 dengan kamera digital kecil di tangan seorang sineas berusia 72 tahun, film ini bukan dokumenter biasa. Ia adalah catatan perjalanan lembut tentang orang-orang yang memungut sisa panen, sisa pasar, bahkan sisa hidup, dan mengubahnya menjadi makanan, seni, atau sekadar alasan untuk tetap berjalan. Hampir 25 tahun kemudian, film ini masih jadi pengingat paling hangat bahwa yang dibuang orang lain sering kali cukup untuk hidup dengan bermartabat. BERITA BOLA
Gleaning: Tradisi yang Masih Hidup: Review Film The Gleaners and I
Gleaning, atau memungut hasil panen yang tertinggal di ladang setelah petani selesai, ternyata bukan cuma lukisan abad ke-19. Di Prancis modern, masih ada yang melakukannya: pensiunan yang mengisi keranjang dengan kentang bengkok, pengangguran yang mencari apel jatuh, sampai keluarga urban yang datang akhir pekan demi sayur gratis. Film ini memperlihatkan mereka tanpa rasa kasihan; malah dengan rasa kagum. Ada kakek yang mengambil anggur sisa karena “lebih enak daripada yang dijual”, ada chef bintang yang memungut herbs untuk restorannya demi rasa autentik. Gleaning ternyata bukan hanya soal miskin, tapi juga pilihan hidup yang menolak pemborosan.
Orang-orang di Pinggir yang Penuh Cerita: Review Film The Gleaners and I
Yang membuat film ini hidup adalah wajah-wajahnya. Pasangan yang tinggal di tempat penampungan tapi tiap pagi memungut roti dan sayur di pasar, lalu mengajari anak-anak baca tulis malam hari. Pemuda yang hidup dari sampah kota tapi punya prinsip “saya hanya ambil yang masih bisa dimakan”. Seniman yang mengumpul barang rongsok jadi patung raksasa. Mereka bicara langsung ke kamera dengan santai, kadang tertawa, kadang diam lama. Tak ada narasi menghakimi; hanya pertanyaan-pertanyaan ringan yang membuka cerita mereka seperti membuka kerang.
Kamera Kecil, Kebebasan Besar
Ini adalah salah satu film pertama yang benar-benar memanfaatkan kamera digital mini. Sang sutradara sering memutar lensa ke tangannya sendiri yang sudah keriput, ke rambutnya yang menutupi layar, bahkan ke kulkasnya di rumah. Kebebasan itu memberi rasa intim yang jarang ada di dokumenter besar. Film terasa seperti buku harian berjalan: kadang fokus ke truk sampah, kadang tiba-tiba close-up ke hati artichoke yang dibuang karena bentuknya jelek. Keintiman itu membuat penonton merasa diajak jalan bersama, bukan cuma menonton dari jauh.
Pesanness tentang Membuang dan Menyimpan
Di balik gambar-gambar sederhana, ada pertanyaan besar: kenapa kita membuang begitu banyak sementara orang lain masih lapar? Kenapa bentuk bengkok langsung jadi alasan buah dibuang? Film ini tak pernah menggurui, tapi diam-diam membuat penonton malu setiap kali membuang makanan. Ia juga merayakan kreativitas orang-orang kecil yang mampu membuat sup lezat dari sisa pasar atau lukisan dari tutup botol. Di tengah era fast fashion dan fast food, pesan ini terasa semakin keras tapi tetap disampaikan dengan senyum.
Kesimpulan
The Gleaners and I adalah film yang terlihat kecil tapi meninggalkan bekas besar. Ia tak punya musik dramatis, tak punya narator terkenal, hanya kamera kecil dan keberanian untuk melihat apa yang biasanya kita abaikan. Di tahun 2025, saat semua orang bicara sustainability tapi tetap beli lebih dari yang dibutuhkan, film ini seperti bisikan lembut di telinga: cukup sudah cukup, dan yang dibuang orang lain sering kali masih berharga. Tontonlah pelan-pelan, sebaiknya sambil makan sisa kemarin yang masih enak. Karena seperti kata salah satu pengumpul di film ini, “Tidak ada yang benar-benar sisa, selama masih ada yang mau mengambil.”