Review Film The Call. Film The Call (2020) karya Lee Chung-hyun menjadi salah satu thriller psikologis Korea Selatan yang paling mind-blowing dan intens di eranya. Cerita tentang dua wanita di waktu berbeda yang terhubung lewat satu telepon rumah, film ini langsung sukses besar dengan rating tinggi di platform streaming global. Dibintangi Park Shin-hye sebagai Seo-yeon di masa kini dan Jeon Jong-seo sebagai Young-sook di masa lalu, The Call raih pujian luas atas twist cerdas dan ketegangan nonstop. Hingga 2025, film ini tetap jadi benchmark thriller time-bending yang campur horror, suspense, dan drama keluarga tanpa jatuh ke klise. BERITA BASKET
Plot dan Twist yang Mengguncang: Review Film The Call
Cerita dimulai saat Seo-yeon, yang baru pindah ke rumah lama ibunya, dapat telepon aneh dari Young-sook yang mengaku hidup di tahun 1999 di rumah yang sama. Awalnya terasa seperti persahabatan lintas waktu, tapi cepat berubah mengerikan saat Seo-yeon sadar perubahan masa lalu bisa selamatkan ayahnya yang mati, sementara Young-sook ternyata psikopat berbahaya. Plot berkembang jadi permainan kucing-tikus lintas waktu: setiap aksi di satu era ubah realitas di era lain.
Lee Chung-hyun jaga tempo ketat: paruh pertama bangun hubungan emosional, paruh kedua ledakan twist brutal yang bikin penonton terus tebak ending. Butterfly effect dieksplorasi maksimal—ubah kecil di masa lalu ciptakan chaos besar di masa kini. Twist identitas Young-sook dan konsekuensi perubahan waktu bikin film ini tak terduga sampai detik terakhir, dengan ending yang gelap dan memuaskan sekaligus mengganggu.
Akting dan Karakter yang Kompleks: Review Film The Call
Park Shin-hye solid sebagai Seo-yeon: wanita biasa yang awalnya polos, tapi perlahan jadi nekat demi selamatkan keluarga. Transformasinya dari korban jadi manipulator terasa alami dan emosional. Jeon Jong-seo curi perhatian sebagai Young-sook: dari gadis kesepian jadi psikopat dingin yang mencekam—mata dan suaranya saja sudah bikin merinding.
Karakter ibu Seo-yeon dan Young-sook beri lapisan trauma keluarga yang dalam—abuse, kesepian, dan obsesi jadi pemicu kegilaan. Chemistry lewat telepon antara dua aktris utama luar biasa: dialog penuh manipulasi, ancaman, dan keputusasaan terasa nyata meski tak pernah bertemu langsung. Akting duo ini angkat film jadi lebih dari thriller biasa, jadi studi karakter tentang bagaimana masa lalu bentuk monster.
Arahan dan Elemen Teknis
Lee Chung-hyun tunjukkan visi brilian di film panjang keduanya: paralel editing antara dua era dengan warna berbeda—hangat untuk masa lalu, dingin untuk masa kini—bikin disorientasi yang pas. Sound design jadi bintang: suara telepon statis, napas berat, dan musik minimalis tingkatkan paranoia. Sinematografi fokus close-up wajah dan detail rumah yang sama tapi berbeda waktu, tambah nuansa claustrophobic.
Kekerasan tak berlebih tapi impactful—setiap momen sadis punya konsekuensi emosional. Film ini hindari eksplanasi berlebih soal paradoks waktu, fokus pada dampak manusiawi. Pada 2025, elemen teknisnya masih segar, terutama cara sutradara mainkan ekspektasi penonton dengan twist visual dan naratif.
Kesimpulan
The Call adalah thriller time-bending cerdas yang campur suspense mencekam, twist gila, dan drama emosional mendalam. Lee Chung-hyun ciptakan dunia di mana satu telepon bisa ubah segalanya, dukung akting luar biasa Park Shin-hye dan Jeon Jong-seo yang bikin karakter hidup. Film ini tak cuma hiburan—ia tanya soal konsekuensi ubah masa lalu dan batas kemanusiaan. Wajib tonton bagi penggemar thriller psikologis yang suka cerita kompleks tanpa resolusi mudah. Pada akhirnya, The Call ingatkan bahwa terhubung dengan masa lalu bisa selamatkan atau hancurkan—dan kadang, jawab telepon itu keputusan terburuk sekaligus terbaik. Film brilian yang tetap bikin mikir lama setelah selesai.