Review Film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang dirilis pada 2013 kembali ramai dibicarakan di awal 2026. Adaptasi novel klasik karya Buya Hamka ini sering ditayangkan ulang di televisi dan platform digital, membangkitkan nostalgia romansa tragis era 1930-an. Saat pertama rilis, film ini sukses besar dengan lebih dari 1,7 juta penonton, menjadikannya salah satu film Indonesia terlaris tahun itu. Kini, kisah cinta terhalang adat antara Zainuddin dan Hayati ini tetap menyentuh hati, terutama bagi penonton yang menyukai drama romantis penuh makna budaya. BERITA VOLI
Plot dan Karakter Utama: Review Film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck
Cerita berlatar tahun 1930-an, mengikuti Zainuddin, pemuda keturunan campuran Minang dan Makassar yang kembali ke Padang. Ia jatuh cinta pada Hayati, gadis Minang murni yang cantik dan taat adat. Cinta mereka terhalang tradisi yang melarang pernikahan dengan keturunan campuran. Hayati akhirnya dipaksa menikah dengan Aziz, pria kaya dan modern. Konflik memuncak saat Hayati pulang naik kapal Van der Wijck yang tragis tenggelam, meninggalkan Zainuddin dalam penyesalan abadi.
Herjunot Ali memerankan Zainuddin dengan emosi mendalam, menampilkan pria sensitif tapi tegar. Pevita Pearce sebagai Hayati tampil anggun dan rapuh, sementara Reza Rahadian sebagai Aziz membawa karisma antagonis yang kuat. Karakter pendukung menambah nuansa budaya Minang yang kental. Chemistry antara Zainuddin dan Hayati terasa intens, membuat penonton ikut haru dengan nasib cinta mereka yang pahit.
Elemen Visual dan Budaya: Review Film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck
Tenggelamnya Kapal Van der Wijck menonjol dengan rekonstruksi era 1930-an yang detail, dari kostum tradisional hingga latar Padang, Medan, dan laut Lombok. Sinematografi indah menangkap panorama alam Minang dan suasana kolonial, diperkuat efek tenggelamnya kapal yang realistis tanpa animasi berlebih. Film ini mengkritik adat istiadat yang kaku, sambil menyajikan pesan tentang cinta sejati melawan diskriminasi sosial.
Disutradarai Sunil Soraya, karya ini berdurasi hampir tiga jam dengan tempo lambat tapi penuh refleksi. Soundtrack menyentuh memperkuat adegan emosional, membuat cerita terasa seperti puisi visual tentang pengorbanan dan penyesalan.
Kelebihan dan Kritik
Film ini dipuji karena kesetiaan pada novel, akting memukau para pemeran utama, serta penggambaran budaya yang autentik. Banyak penonton terharu dengan tragedi akhir, plus pesan sosial yang relevan hingga kini. Kesuksesan box office membuktikan daya tarik romansa tragis ini lintas generasi.
Namun, beberapa kritik menyebut durasi terlalu panjang hingga terasa lambat, serta adegan tenggelam kapal yang singkat dibanding ekspektasi judul. Karakter Aziz kadang dinilai terlalu hitam-putih, dan alur predictable bagi yang sudah baca novel. Meski begitu, kekurangan ini tak mengurangi nilai sebagai drama klasik berkualitas.
Kesimpulan
Tenggelamnya Kapal Van der Wijck tetap jadi benchmark romansa tragis Indonesia yang abadi. Di awal 2026 ini, tayangan ulangnya mengingatkan bahwa cinta sering bertabrakan dengan adat dan nasib tak terduga. Dengan visual memukau, akting brilian, dan pesan mendalam, film ini layak ditonton ulang untuk merasakan getirnya kisah Zainuddin dan Hayati. Secara keseluruhan, ini adalah mahakarya yang berhasil menghidupkan novel legendaris, cocok bagi siapa saja yang ingin tenggelam dalam emosi cinta tak sampai.