Review Film How to Train Your Dragon Live: Worth It? Film live-action How to Train Your Dragon resmi tayang 13 Juni 2025 dan langsung jadi salah satu rilis terbesar Disney tahun itu. Disutradarai Dean DeBlois (sutradara trilogi animasi asli), film ini adaptasi cerita Hiccup dan Toothless dengan cast baru: Mason Thames sebagai Hiccup, Nico Parker sebagai Astrid, Gerard Butler kembali mengisi suara Stoick, dan Julian Dennison sebagai Fishlegs. Dengan budget US$180 juta, film ini sudah raup US$820 juta global hingga Januari 2026, rating Rotten Tomatoes 84% kritikus dan 91% penonton, serta CinemaScore A. Pertanyaannya: apakah live-action ini worth it, atau cuma pengulangan animasi yang tak perlu? Jawabannya cukup jelas—ya, layak ditonton, tapi dengan catatan. ULAS FILM
Kekuatan Visual dan Set yang Memukau di Film How to Train Your Dragon Live: Review Film How to Train Your Dragon Live: Worth It?
Salah satu alasan terbesar film ini sukses adalah visualnya yang luar biasa. Dunia Berk (Berk) dibuat sangat hidup—desa Viking penuh detail kayu, kulit, dan besi, dengan kabut tebal dan laut ganas yang bikin suasana Islandik terasa nyata. Efek CGI Toothless dan naga-naga lain hampir sempurna—gerakan sayap, ekspresi mata, dan tekstur sisik terasa organik, tidak seperti robot. Adegan penerbangan Hiccup dan Toothless di atas awan jadi highlight visual—sinematografi oleh Bill Pope tangkap keindahan dan kebebasan terbang dengan indah. Desain naga tetap setia pada animasi asli tapi ditingkatkan: Toothless lebih ekspresif, Night Fury terasa lebih misterius dan powerful. Lighting dan warna malam hari bikin adegan romantis Hiccup-Astrid terasa magis. Untuk penggemar animasi, transisi ke live-action terasa mulus—banyak yang bilang ini salah satu adaptasi live-action terbaik Disney sejak The Lion King 2019.
Performa Cast dan Emosi yang Masih Kuat dari Film How to Train Your Dragon Live
Mason Thames berhasil bawa Hiccup yang canggung, pintar, dan penuh empati—ia tak sekadar tiru Jay Baruchel, tapi beri nuansa baru yang lebih grounded. Nico Parker sebagai Astrid lebih kuat dan kompleks daripada versi animasi—ia tak cuma warrior, tapi punya keraguan dan kedalaman emosional. Gerard Butler kembali jadi Stoick yang hangat tapi keras kepala—suara dan chemistry dengan Thames terasa autentik. Emosi inti film—persahabatan Hiccup dan Toothless—tetap menyentuh. Adegan pertama mereka bertemu dan terbang bersama bikin banyak penonton terharu, sama seperti animasi asli. Humornya tetap ada, terutama dari Fishlegs dan Twins, tapi lebih ringan dan tak berlebihan. Soundtrack John Powell kembali dengan aransemen baru—lagu “Test Drive” dan “Romantic Flight” versi live terasa lebih megah dengan orkestra besar.
Kelemahan dan Perbandingan dengan Animasi Asli: Review Film How to Train Your Dragon Live: Worth It?
Meski visual dan emosi kuat, film ini punya kelemahan. Durasi 2 jam 10 menit terasa agak panjang karena beberapa subplot (seperti konflik desa dan naga) terlalu dieksplorasi. Pacing tengah agak lambat, terutama saat fokus ke backstory Stoick dan Hiccup. Beberapa fans animasi bilang live-action kehilangan pesona kartun—ekspresi naga tak sefleksibel animasi 2D, dan humor fisik kurang lucu dibanding versi asli. Ada juga kritik kecil soal CGI di beberapa adegan malam—Toothless kadang terlihat kurang detail di gelap. Tapi secara keseluruhan, film ini tak merusak warisan animasi—malah bikin cerita terasa lebih realistis dan dewasa. Rating PG-13 bikin adegan kekerasan lebih intens, tapi tetap aman untuk keluarga.
Respon Penonton dan Dampak
Penonton Indonesia suka banget—film ini laris di bioskop-bioskop besar, dengan antrean panjang di Jakarta, Surabaya, dan Medan. Banyak keluarga nonton bareng dan bilang “lebih bagus dari yang dibayangkan”. Box office US$820 juta (dengan proyeksi akhir US$950 juta–1 miliar) tunjukkan sukses komersial, meski tak sebesar The Lion King 2019. Di media sosial, klip penerbangan Toothless dan momen emosional Hiccup-Stoick jadi viral. Film ini juga bukti live-action Disney bisa sukses kalau tetap setia pada sumber asli sambil tambah kedalaman. Sekuel sudah diumumkan untuk 2028, fokus konflik dengan Hidden World.
Kesimpulan
Mufasa: The Lion King punya emosi kuat, tapi The Batman II bikin Gotham mencekam—keduanya sukses di jalur masing-masing. How to Train Your Dragon live-action 2025 adalah adaptasi yang worth it: visual memukau, emosi tetap utuh, dan cerita terasa segar meski predictable. Bukan pengganti animasi asli, tapi pelengkap yang layak. Kalau suka petualangan, persahabatan, dan naga keren, film ini wajib ditonton di bioskop—efek layar lebar bikin penerbangan Toothless terasa nyata. Reboot dan live-action Disney lagi on fire—semoga sekuelnya juga sekuat ini. Nonton kalau belum—kamu bakal senyum lebar.