Review Film F1

review-film-f1

Review Film F1. Film F1, yang tayang perdana Juni 2025, langsung menjadi sorotan utama musim panas dengan durasi 155 menit penuh aksi balap mobil. Disutradarai oleh Joseph Kosinski, yang dikenal dari film aksi berenergi tinggi sebelumnya, cerita ini mengikuti Sonny Hayes, mantan pembalap berbakat yang kembali ke lintasan setelah kecelakaan mengerikan 30 tahun lalu. Sonny direkrut untuk bergabung dengan tim underdog, membimbing pembalap muda penuh semangat bernama Joshua Pearce, sambil menghadapi tekanan kompetisi sengit. Dengan rating 82% di Tomatometer dan 97% dari penonton, film ini memukau lewat adegan balapnya, meski plotnya sering dikritik sebagai klise. Bagi penggemar olahraga motor, ini seperti tiket VIP ke Grand Prix sungguhan.  BERITA BOLA

Penampilan Brad Pitt yang Karismatik: Review Film F1

Brad Pitt sebagai Sonny Hayes adalah jantung film ini. Di usia 61 tahun, Pitt membawa pesona cool guy yang effortless, campuran antara mentor bijak dan pemberontak tua yang tak mau kalah. Karakternya digambarkan sebagai “fenomena terbesar yang tak pernah terjadi” di era 1990-an, lengkap dengan flashback de-aging yang mulus. Pitt tak hanya berakting; ia tampil sebagai pembalap sungguhan, berkat pelatihan intensif dan cameo dari personel Formula 1 asli. Meski beberapa kritikus bilang karakternya terlalu unchallenged – Sonny selalu dapat dukungan tim tanpa hambatan besar – karisma Pitt membuat penonton ikut jatuh hati. Ia seperti zen master di lintasan, dengan dialog quippy yang ringan tapi mengena. Penampilan ini juga reflektif, mengingat Pitt sedang mempertimbangkan citra dirinya di usia senja.

Aksi Balap dan Sinematografi yang Menggelegar: Review Film F1

Ini yang bikin F1 wajib ditonton di layar lebar: adegan balapnya luar biasa. Kosinski menggunakan efek praktis, footage balap nyata, dan kamera immersive yang terpasang di mobil prototipe khusus. Rasanya seperti duduk di pit stop, dengan suara mesin menggelegar, cahaya retina-stabbing, dan kecepatan yang bikin jantung berdegup. Adegan klimaks di Abu Dhabi menampilkan manuver mustahil yang memadukan CGI minimalis dengan aksi fisik, membuat penonton merasakan getaran roda. Musik Hans Zimmer menambah intensitas, meski lagu-lagu asli seperti “Messy” hanya muncul sekilas. Kritikus memuji ini sebagai “thunderous experience”, tapi ada catatan: durasi panjang membuat mid-section terasa repetitif, dengan balapan fiksi yang terlalu dominan dibanding drama off-track.

Plot dan Karakter Pendukung yang Klise tapi Menghibur

Ceritanya mengikuti formula sports movie klasik: comeback, mentorship, dan passing the torch. Sonny membangun tim disfungsional menjadi efisien, sambil flirt ringan dengan insinyur Kate, yang digambarkan satu dimensi. Joshua Pearce, dimainkan Damson Idris, adalah rookie hothead yang butuh bimbingan – dinamis klasik ala mentor-murid. Pendukung seperti kru pit menghibur, dengan nod ke pembalap F1 nyata tanpa overplay. Tapi kekurangannya jelas: plot tak realistis, seperti upgrade mobil instan yang ubah tim terburuk jadi juara, atau perubahan pembalap di race terakhir yang langgar aturan nyata. Banyak yang kritik kurangnya kedalaman karakter dan representasi perempuan yang lemah, meski film ini tetap escapist delight untuk yang tak terlalu serius.

Kesimpulan

F1 adalah blockbuster musim panas yang sukses: adrenalin tinggi, visual memukau, dan Brad Pitt yang tak tergantikan, meski plotnya aman dan predictable. Ini bukan film balap penuh kedalaman seperti karya sebelumnya, tapi hiburan murni yang layak dinikmati di bioskop. Rating 7.7/10 di IMDb mencerminkan keseimbangan itu – thrilling untuk fans, menghibur untuk pemula. Jika Anda suka cerita comeback dengan kecepatan 300 km/jam, ini tiketnya. Film ini membuktikan Kosinski ahli ciptakan crowd pleaser, dan Pitt tetap ikon yang bikin layar bersinar.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *