Review Film Emilia Pérez: Musikal Kartel yang Gila. Emilia Pérez karya Jacques Audiard yang tayang sejak akhir 2024 masih menjadi salah satu film paling kontroversial dan dibicarakan hingga awal 2026. Musikal berbahasa Spanyol ini mengisahkan bos kartel Meksiko bernama Manitas (Karla Sofía Gascón) yang ingin berubah identitas menjadi perempuan bernama Emilia Pérez. Zoe Saldaña sebagai pengacara Rita Moro Castro, Selena Gomez sebagai Jessi (mantan istri Manitas), dan Adriana Paz sebagai Epifanía melengkapi cast utama. Durasi 132 menit, film ini sudah meraup lebih dari US$45 juta secara global (untuk film non-Inggris termasuk sukses besar) dan memenangkan beberapa penghargaan besar di Cannes 2024 (termasuk Best Actress ensemble untuk empat aktris utama). Rating Rotten Tomatoes 81% kritikus dan 76% penonton. Apakah musikal kartel yang gila ini layak disebut masterpiece atau malah terlalu aneh dan berantakan? ULAS FILM
Konsep Gila yang Berhasil Menyatu di Film Emilia Pérez: Review Film Emilia Pérez: Musikal Kartel yang Gila
Jacques Audiard mengambil risiko besar dengan menggabungkan tiga genre yang jarang bertemu: musikal, drama kriminal kartel, dan cerita transgender. Hasilnya terasa sangat berani dan unik—Manitas yang dulu kejam jadi Emilia yang ingin hidup damai sebagai perempuan, membangun yayasan pencarian orang hilang sambil tetap terikat masa lalu kartelnya. Adegan musikalnya tidak biasa: lagu-lagu dinyanyikan dalam konteks yang sangat dramatis dan tragis, seperti “El Mal” (lagu pembuka yang viral) di mana kartel bernyanyi tentang kekerasan mereka, atau “La Valse d’Emilia” yang menyentuh saat Emilia mulai transisi. Musik oleh Clément Ducol dan Camille sangat kuat—campuran Latin, jazz, dan elemen musikal klasik yang terasa organik dengan cerita. Konsep ini seharusnya terasa absurd, tapi Audiard berhasil membuatnya menyatu dengan emosi yang dalam dan tidak pernah jadi parodi.
Performa Karla Sofía Gascón dan Cast Utama: Review Film Emilia Pérez: Musikal Kartel yang Gila
Karla Sofía Gascón sebagai Emilia Pérez memberikan penampilan yang luar biasa—ia berhasil transisi dari sosok kartel kejam menjadi perempuan yang rapuh dan penuh penyesalan tanpa terasa dipaksakan. Ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan suara nyanyinya sangat meyakinkan. Ia jadi salah satu alasan utama film ini menang Best Actress ensemble di Cannes. Zoe Saldaña sebagai Rita Moro Castro membawa intensitas yang kuat—karakternya mulai dari pengacara dingin yang ambisius hingga seseorang yang terjebak moralitas. Selena Gomez sebagai Jessi (mantan istri) berhasil tampil di luar zona nyamannya dengan peran dramatis dan menyanyi yang solid. Adriana Paz sebagai Epifanía menambah lapisan emosional sebagai ibu yang mencari anak hilang. Ensemble cast ini memang layak dapat pujian—mereka membuat cerita gila ini terasa manusiawi dan menyentuh.
Kelemahan dan Kontroversi
Meski konsep dan performa kuat, film ini punya kelemahan di babak akhir yang terasa terburu-buru dan agak berantakan. Beberapa plot twist terasa dipaksakan dan kurang logis, terutama transisi dari drama kartel ke musikal penuh harapan. Ada juga kritik bahwa film ini terlalu “berani” sampai terasa pretensius—menggabungkan isu transgender dengan kartel dan musikal bisa terasa tidak sensitif bagi sebagian penonton. Pacing di tengah agak lambat karena terlalu banyak lagu dan dialog panjang, membuat beberapa adegan terasa bertele-tele. Dibandingkan musikal modern seperti La La Land atau tick, tick… BOOM!, Emilia Pérez lebih gelap dan tidak seceria itu, tapi juga kurang punya “lagu hit” yang mudah diingat. Beberapa bilang ini “terlalu banyak ide dalam satu film”.
Respon Penonton dan Dampak
Penonton Indonesia yang suka film arthouse dan musikal menyambut sangat positif—film ini laris di bioskop indie dan platform streaming, dengan banyak diskusi soal performa Karla Sofía Gascón dan keberanian cerita. Box office US$45 juta (untuk film non-Inggris termasuk sukses besar) dan banyak penghargaan festival tunjukkan film ini punya daya tarik kuat. Di media sosial, klip lagu “El Mal” dan adegan akhir jadi viral. Film ini juga membuka diskusi soal representasi transgender di layar lebar, kekerasan kartel, dan bagaimana musikal bisa digunakan untuk cerita serius. Banyak yang bilang ini salah satu film paling berani 2025 dan layak dapat Palme d’Or karena keunikannya.
Kesimpulan
Emilia Pérez adalah musikal kartel yang benar-benar gila—berani, emosional, dan sangat unik. Karla Sofía Gascón dan cast utama tampil luar biasa, visual dan musik kuat, serta cerita penuh risiko yang berhasil menyatu meski kadang terasa berantakan. Meski pacing tengah agak lambat dan beberapa bagian kontroversial, film ini tetap jadi salah satu karya paling memorable 2025 yang layak dapat Palme d’Or. Worth it? Ya—terutama kalau kamu suka musikal non-konvensional, drama berat, dan cerita yang tidak takut mengambil risiko. Kalau suka film seperti Phantom Thread, Tár, atau Poor Things, ini wajib. Nonton kalau belum—siapkan pikiran terbuka dan hati yang siap terenyuh. Jacques Audiard lagi tunjukkan kenapa ia salah satu sutradara paling berani saat ini. Emilia Pérez memang gila—tapi gila yang layak diingat.