Review Film Away from Her. Away from Her tetap menjadi salah satu film paling menyentuh dan jujur tentang demensia serta dampaknya terhadap hubungan jangka panjang. Dirilis pada tahun 2006, karya debut sutradara Sarah Polley ini berhasil memenangkan banyak pujian kritis dan nominasi Oscar, terutama untuk penampilan Julie Christie. Cerita berfokus pada Fiona Anderson, seorang wanita berusia 70-an yang mulai menunjukkan gejala Alzheimer, dan suaminya Grant yang harus belajar melepaskan istrinya ketika Fiona memilih masuk ke panti jompo khusus demensia. Film ini tidak menjadikan penyakit sebagai alat drama murahan; sebaliknya, ia mengeksplorasi cinta, kehilangan, pengorbanan, dan penerimaan dengan cara yang sangat lembut namun menyayat hati. Hampir dua dekade kemudian, film ini masih terasa segar dan relevan karena kepekaannya yang luar biasa terhadap emosi manusia di tahap akhir hidup. BERITA TERKINI
Penampilan Julie Christie yang Menyayat Hati: Review Film Away from Her
Julie Christie memberikan penampilan yang sering disebut sebagai salah satu yang terbaik dalam kariernya sebagai Fiona. Ia berhasil menunjukkan perubahan bertahap dari wanita cerdas, anggun, dan penuh humor menjadi seseorang yang perlahan kehilangan ingatan, orientasi, dan akhirnya identitasnya sendiri. Christie tidak pernah berlebihan—ia menggunakan ekspresi mata yang mulai kosong, senyum yang semakin ragu, dan gerakan tubuh yang lambat untuk menyampaikan kebingungan serta rasa takut yang diam-diam. Ada momen ketika Fiona masih cukup sadar untuk mengenali suaminya tapi tidak lagi ingat detail hubungan mereka—tatapan itu menyakitkan karena terasa sangat nyata.
Gordon Pinsent sebagai Grant adalah pasangan yang sempurna: pria tua yang masih mencoba mempertahankan martabat, tapi perlahan hancur melihat istrinya semakin menjauh. Ia memerankan perjuangan internal antara ingin menjaga Fiona di rumah dan akhirnya menerima bahwa panti jompo mungkin pilihan terbaik. Interaksi mereka penuh keheningan yang bermakna—ada kasih sayang yang tetap utuh meski Fiona mulai melupakannya. Stacey LaBerge sebagai Fiona muda dalam kilas balik juga menambah lapisan emosi yang dalam, menunjukkan betapa Fiona dulu adalah wanita yang sangat hidup dan mandiri.
Penggambaran Demensia yang Sangat Realistis dan Berempati: Review Film Away from Her
Salah satu kekuatan terbesar Away from Her adalah penggambaran Alzheimer yang akurat dan penuh empati. Film ini tidak menunjukkan penyakit sebagai monster yang tiba-tiba muncul; gejala dimulai dari hal-hal kecil—lupa nama benda sehari-hari, tersesat di lingkungan sendiri, atau kebingungan saat berbicara. Polley menunjukkan bagaimana Fiona masih cukup sadar untuk merasa malu atas kekurangannya, dan bagaimana ia memilih panti jompo karena tidak ingin membebani Grant. Keputusan itu terasa sangat manusiawi dan menyakitkan sekaligus.
Film ini juga jujur tentang beban caregiving. Grant awalnya menolak ide panti jompo, tapi perlahan menyadari bahwa ia tidak bisa memberikan perawatan yang dibutuhkan Fiona sendirian. Ada momen ketika Fiona mulai membentuk ikatan emosional dengan penghuni lain di panti, dan Grant harus belajar melepaskan—bukan karena kurang cinta, melainkan karena ia ingin istrinya tetap merasa aman dan bahagia meski tanpa dirinya. Penggambaran ini membuat penonton memahami bahwa demensia bukan hanya penyakit penderita, melainkan juga ujian berat bagi pasangan dan keluarga.
Dampak Emosional dan Pesan yang Abadi
Away from Her tidak memaksa penonton menangis dengan adegan manipulatif. Emosinya datang dari akumulasi momen kecil yang terasa sangat nyata: senyum Fiona yang mulai pudar, tatapan Grant yang penuh penyesalan, atau saat Fiona memanggil Grant dengan nama suami lain tanpa sadar. Akhir film yang terbuka namun penuh kasih—tanpa resolusi dramatis—meninggalkan rasa pilu sekaligus hangat yang lama tertinggal.
Pesan utama film ini adalah tentang cinta yang bertahan meski ingatan memudar. Fiona mungkin lupa siapa Grant, tapi Grant tetap memilih untuk tetap ada, membaca cerita untuknya, dan menerima bahwa cinta tidak selalu harus diingat untuk tetap nyata. Film ini juga mengingatkan bahwa di usia senja, martabat dan otonomi sangat berharga—dan kadang melepaskan adalah bentuk kasih sayang terbesar. Di tengah banyak film yang menggambarkan demensia dengan cara dramatis atau menghibur, Away from Her memilih jalan yang lebih tenang tapi jauh lebih menyentuh.
Kesimpulan
Away from Her adalah film yang sederhana tapi sangat dalam dalam menggambarkan cinta di usia senja dan dampak demensia terhadap hubungan panjang. Penampilan luar biasa dari Julie Christie dan Gordon Pinsent, ditambah naskah Sarah Polley yang penuh kepekaan serta penyutradaraan yang penuh perhatian, membuat film ini tetap relevan hingga sekarang. Ia tidak menawarkan akhir bahagia yang dipaksakan atau drama berlebihan; sebaliknya, ia memberikan potret realistis tentang bagaimana cinta bisa bertahan meski ingatan memudar, dan bagaimana melepaskan kadang menjadi bentuk kasih sayang terakhir. Di tengah dunia yang sering menghindari topik penuaan dan kehilangan ingatan, Away from Her berani menatap langsung—dengan lembut, jujur, dan penuh empati. Film ini bukan sekadar cerita tentang demensia—ia adalah pengingat mendalam bahwa cinta sejati tidak bergantung pada ingatan, melainkan pada kehadiran dan pengorbanan yang terus-menerus.