Review Film The Lion King

review-film-the-lion-king

Review Film The Lion King. Film yang mengisahkan perjalanan seorang pangeran singa muda kembali hadir dalam versi photorealistic yang memukau, dirilis pada 2019 lalu. Cerita klasik tentang pengkhianatan, pengasingan, dan kembalinya seorang pewaris takhta ini tetap mempertahankan esensi aslinya, dengan tambahan teknologi visual canggih yang membuat savana Afrika terasa begitu nyata. Durasi sekitar dua jam ini menawarkan petualangan epik yang penuh lagu-lagu ikonik, meski sering kali terasa seperti tiruan shot-for-shot dari versi animasi klasik. Kesuksesan box office-nya yang mencapai miliaran dolar membuktikan daya tarik abadi kisah ini bagi penonton keluarga. BERITA BASKET

Alur Cerita dan Karakter Utama: Review Film The Lion King

Alur masih mengikuti Simba, anak singa yang idolakan ayahnya sebagai raja bijaksana, hingga tragedi memisahkan mereka akibat intrik paman licik. Simba melarikan diri, bertemu teman-teman baru yang mengajarkannya hidup tanpa beban, sebelum akhirnya kembali untuk merebut haknya. Karakter utama seperti raja agung yang voiced oleh aktor legendaris tetap memberikan nuansa otoritas, sementara antagonis kali ini lebih gelap dan mengancam. Tambahan elemen seperti hubungan masa lalu antar karakter menambah kedalaman, tapi secara keseluruhan narasi terasa predictable dan kurang inovasi besar. Beberapa adegan ikonik direplikasi hampir identik, termasuk presentasi bayi di tebing batu dan pertarungan klimaks.

Visual, Animasi, dan Efek Khusus: Review Film The Lion King

Bagian paling mencolok adalah tampilan visual yang hiper-realistis, di mana setiap bulu singa, debu savana, dan gerakan hewan terlihat seperti dokumenter alam hidup. Teknologi CGI mutakhir menciptakan lanskap luas yang indah, dengan pencahayaan alami dan detail lingkungan yang mengagumkan. Namun, pendekatan ini justru mengorbankan ekspresi wajah: hewan-hewan terlihat terlalu serius dan kaku saat bernyanyi atau berbicara, sehingga emosi sulit tersampaikan seperti di animasi bergaya kartun. Lagu-lagu klasik tetap energik, tapi beberapa diubah sedikit, termasuk penambahan satu lagu baru yang energik meski terasa dipaksakan. Humor dari duo komedi tetap menjadi penyelamat, dengan improvisasi yang segar.

Pengisi Suara dan Dampak Emosional

Pengisi suara mayoritas baru memberikan performa solid, dengan beberapa standout seperti duet romantis yang menyegarkan dan humor sarkastik dari karakter pendukung. Kembalinya satu suara ikonik untuk raja menambah nostalgia kuat. Sayangnya, realisme visual membuat momen dramatis seperti kehilangan tragis kurang mengena dibanding versi animasi, di mana ekspresi berlebih justru memperkuat rasa sedih dan gembira. Film ini berhasil menyentuh penonton lama melalui kenangan, tapi bagi yang baru, terasa datar di beberapa bagian karena kurangnya kebebasan ekspresi karakter.

Kesimpulan

Versi photorealistic ini sukses besar secara komersial dan visual, membawa kisah abadi ke era modern dengan teknologi impresif yang membuat dunia savana terasa hidup. Meski setia pada sumber asli, ia sering kehilangan pesona emosional dan kebebasan artistik yang membuat versi klasik begitu berkesan. Bagi penggemar, ini adalah pengalaman nostalgia yang layak, penuh momen indah dan lagu tak terlupakan. Namun, inovasi minim membuatnya terasa seperti cover lagu hits daripada karya orisinal baru. Pada akhirnya, film ini membuktikan kekuatan cerita universal tentang tanggung jawab dan keluarga, walau dengan pendekatan yang lebih aman daripada berani.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *