Review Film: Wolfwalkers (2020)

Review Film: Wolfwalkers (2020)

Review Film: Wolfwalkers Di era di mana industri animasi global didominasi oleh teknologi CGI (Computer Generated Imagery) 3D yang mengejar fotorealisme, studio kecil asal Irlandia, Cartoon Saloon, berdiri tegak sebagai benteng terakhir bagi seni animasi 2D tradisional. Wolfwalkers, yang dirilis pada tahun 2020, adalah mahakarya penutup dari “Trilogi Cerita Rakyat Irlandia” karya sutradara Tomm Moore dan Ross Stewart, setelah The Secret of Kells dan Song of the Sea. Film ini bukan sekadar tontonan visual yang memanjakan mata, melainkan sebuah puisi visual yang bergerak, menggali sejarah kelam kolonialisme dan hilangnya koneksi manusia dengan alam liar.

Berlatar di Kilkenny, Irlandia, pada tahun 1650—masa pendudukan Inggris yang brutal—film ini memperkenalkan kita pada Robyn Goodfellowe, seorang gadis muda asal Inggris yang bercita-cita menjadi pemburu serigala seperti ayahnya. Namun, dunianya yang terstruktur dan penuh aturan mendadak runtuh ketika ia bertemu dengan Mebh Óg MacTíre, seorang gadis liar yang hidup di hutan dan dikabarkan sebagai “Wolfwalker”—manusia yang bisa berkomunikasi dengan serigala dan mengubah wujudnya saat tidur. Premis ini menjadi landasan bagi sebuah petualangan magis yang menantang batas antara peradaban dan kebuasan, serta antara penjajah dan yang dijajah.

Estetika Visual yang Memukau dan Penuh Simbol

Aspek paling revolusioner dari Wolfwalkers adalah gaya animasinya yang berani dan penuh makna filosofis. Tim animator menggunakan dua gaya visual yang sangat kontras untuk membedakan dua dunia yang bertabrakan. Dunia kota Kilkenny digambarkan dengan garis-garis geometris yang kaku, sudut-sudut tajam, dan perspektif datar yang menyerupai seni cetak kayu (woodblock print) abad pertengahan. Palet warnanya didominasi abu-abu, cokelat, dan warna-warna suram yang menyimbolkan penindasan, keteraturan yang membelenggu, dan ketakutan penduduk kota di bawah pemerintahan Lord Protector yang otoriter.

Sebaliknya, saat cerita berpindah ke dalam hutan, gaya animasinya berubah drastis menjadi lebih organik, liar, dan ekspresif. Garis-garis pensil yang kasar sengaja dibiarkan terlihat, memberikan kesan sketsa yang belum selesai namun penuh energi kehidupan. Pewarnaannya menggunakan gaya cat air musim gugur yang hangat dan melimpah, menciptakan kontras tajam dengan kedinginan kota. Puncak dari pencapaian visual film ini adalah representasi “Wolfvision” atau penglihatan serigala. Saat karakter melihat dunia melalui mata serigala, layar berubah menjadi kanvas gelap di mana aroma dan suara divisualisasikan sebagai aliran garis neon warna-warni yang bergerak dinamis. Ini adalah pengalaman sensorik yang imersif, mengajak penonton merasakan dunia bukan hanya dengan mata, tetapi dengan insting. (berita bola basket)

Narasi Tentang Kolonialisme dan Kerusakan Alam Review Film: Wolfwalkers

Di balik keindahan visualnya, Wolfwalkers menyimpan subteks sejarah dan politik yang cukup berat. Sosok Lord Protector (yang jelas mereferensikan Oliver Cromwell) adalah personifikasi dari kolonialisme Inggris yang ingin “menjinakkan” tanah Irlandia. Misinya untuk membasmi serigala bukan sekadar masalah keamanan, melainkan simbol dari upaya menghancurkan budaya lokal, kepercayaan pagan, dan alam liar yang dianggap tidak beradab. Tembok kota bukan hanya melindungi penduduk dari serigala, tetapi juga memenjarakan mereka dalam ketakutan dan kepatuhan buta.

Film ini mengeksplorasi tema ekologi yang mendalam: benturan antara manusia yang ingin menguasai alam versus manusia yang hidup berdampingan dengannya. Mebh dan ibunya mewakili harmoni kuno yang mulai punah, sementara Bill Goodfellowe (ayah Robyn) mewakili manusia yang terjebak dalam tugas untuk merusak alam demi bertahan hidup dalam sistem yang menindas. Transformasi Robyn dari seorang pemburu menjadi Wolfwalker adalah metafora yang kuat tentang empati. Ia belajar bahwa “monster” yang selama ini ia takuti ternyata hanyalah makhluk yang mencoba melindungi rumahnya dari serakahnya peradaban manusia.

Persahabatan dan Hubungan Ayah-Anak

Jantung emosional dari Wolfwalkers terletak pada dinamika hubungan antar karakternya. Persahabatan antara Robyn dan Mebh adalah inti cerita yang menggerakkan plot. Mereka adalah dua sisi mata uang yang berbeda: Robyn yang terkurung dalam sangkar aturan sosial, dan Mebh yang bebas namun kesepian dan terancam punah. Interaksi mereka digambarkan dengan penuh kehangatan dan kenakalan khas anak-anak, membuat penonton percaya bahwa ikatan mereka cukup kuat untuk meruntuhkan tembok pemisah antara dua dunia.

Selain itu, hubungan antara Robyn dan ayahnya, Bill, memberikan lapisan drama keluarga yang menyentuh. Bill bukanlah penjahat; ia adalah seorang ayah yang penuh kasih namun didorong oleh rasa takut. Ia percaya bahwa cara terbaik melindungi putrinya adalah dengan mengurungnya (“caging”) dan memaksanya mematuhi norma sosial. Konflik ini mencerminkan tema besar film tentang kebebasan. Robyn menyadari bahwa sangkar emas—meskipun dibuat atas dasar cinta—tetaplah sebuah sangkar. Perjuangan Robyn untuk membebaskan ibunya Mebh sekaligus membebaskan ayahnya dari rasa takut adalah perjalanan pendewasaan yang emosional. Lagu “Running with the Wolves” dari Aurora yang mengiringi adegan kebebasan Robyn menjadi anthem yang sempurna untuk momen pelepasan diri dari belenggu ekspektasi orang lain.

Kesimpulan Review Film: Wolfwalkers

Secara keseluruhan, Wolfwalkers adalah sebuah kemenangan artistik yang menegaskan posisi Cartoon Saloon sebagai salah satu studio animasi terbaik di dunia saat ini. Film ini berhasil memadukan cerita rakyat kuno dengan isu-isu modern yang relevan seperti pelestarian lingkungan dan hak untuk menentukan nasib sendiri. Ia tidak hanya indah dipandang, tetapi juga memiliki jiwa yang besar dan pesan yang bergema kuat.

Bagi penonton yang mencari alternatif dari animasi 3D mainstream, Wolfwalkers adalah sebuah wahyu. Ia adalah pengingat akan keajaiban yang hilang ketika kita membiarkan dunia modern menggerus alam liar, baik di luar sana maupun di dalam diri kita sendiri. Film ini adalah sebuah dongeng abadi yang akan membuat Anda ingin berlari ke hutan, melolong pada bulan, dan merayakan kebebasan liar yang ada di dalam hati setiap manusia. Sebuah penutup trilogi yang sempurna, magis, dan tak terlupakan.

review film lainnya …..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *