Review Film Hansan: The Rising Dragon: Perang Laut Epik

Review Film Hansan: The Rising Dragon: Perang Laut Epik

Review Film Hansan: The Rising Dragon: Perang Laut Epik. Hansan: Rising Dragon (Hansan: Yongui Chulhyun, 2022) karya Kim Han-min tetap menjadi salah satu film perang laut paling megah dan memukau dalam sinema Korea kontemporer. Hampir empat tahun setelah rilis, film ini masih sering disebut sebagai puncak visual dan emosional dalam genre historical action Korea, dengan rating 7.5/10 di IMDb dan status box office sukses besar di Korea Selatan. Sebagai prekuel dari The Admiral: Roaring Currents (2014), Hansan fokus pada Pertempuran Hansando tahun 1592—salah satu kemenangan terbesar Laksamana Yi Sun-sin melawan invasi Jepang. Dengan Park Hae-il sebagai Yi Sun-sin, film ini berhasil menyajikan epik perang laut yang intens, strategi cerdas, dan rasa patriotisme yang kuat tanpa terasa berlebihan atau klise. INFO CASINO

 

Plot yang Berfokus pada Strategi dan Ketegangan di Film Hansan: The Rising Dragon: Review Film Hansan: The Rising Dragon: Perang Laut Epik

 

Film ini berlatar tahun 1592, saat Jepang di bawah Toyotomi Hideyoshi menginvasi Korea. Setelah kemenangan pertama di Busan, armada Jepang yang dipimpin Wakizaka Yasuharu bergerak menuju Busan untuk menghancurkan armada Korea. Laksamana Yi Sun-sin (Park Hae-il) harus menghadapi armada musuh yang jumlahnya jauh lebih besar dengan armada Korea yang terbatas. Cerita utamanya adalah persiapan dan pelaksanaan Pertempuran Hansando—salah satu pertempuran laut paling legendaris dalam sejarah Korea. Yi Sun-sin menggunakan taktik formasi “crane wing” (sayap bangau) dengan kapal kura-kura (geobukseon) sebagai ujung tombak. Film ini tidak banyak mengandalkan dialog panjang; ketegangan dibangun melalui persiapan strategi, ketidakpastian cuaca, dan momen-momen kritis di atas kapal. Tidak ada subplot romansa atau drama berlebih—semua fokus pada kecerdasan militer, keberanian, dan pengorbanan prajurit biasa.

 

Penampilan Park Hae-il dan Visual yang Spektakuler di Film Hansan: The Rising Dragon: Review Film Hansan: The Rising Dragon: Perang Laut Epik

 

Park Hae-il sebagai Yi Sun-sin memberikan penampilan yang sangat karismatik dan terkendali—Laksamana yang tenang di bawah tekanan, tapi penuh api ketika dibutuhkan. Tatapan matanya dan cara bicara yang pelan tapi tegas membuat karakternya terasa sangat berwibawa. Byun Yo-han sebagai Wakizaka Yasuharu juga luar biasa sebagai antagonis yang cerdas dan ambisius, bukan sekadar penjahat kartun. Visual film ini adalah salah satu yang terbaik dalam genre perang laut Asia: adegan pertempuran di laut lepas difilmkan dengan skala besar, efek CGI kapal kura-kura dan formasi armada terasa sangat realistis. Sinematografi Kim Tae-kyung menggunakan angle lebar dan drone shot untuk menangkap skala pertempuran, sementara musik latar karya Kim Tae-seong epik tapi tidak berlebihan. Adegan-adegan kapal menabrak, meriam meledak, dan prajurit bertarung di atas dek terasa sangat intens dan memacu adrenalin.

Tema Kepemimpinan, Pengorbanan, dan Patriotisme:

Hansan bukan hanya film perang—ia adalah potret kepemimpinan yang bijak di tengah situasi mustahil. Yi Sun-sin digambarkan sebagai pemimpin yang memikirkan prajuritnya, bukan sekadar pahlawan tak terkalahkan. Film ini juga menyoroti pengorbanan prajurit biasa yang sering terlupakan dalam sejarah besar. Pesan patriotisme terasa kuat tapi tidak memaksa—fokusnya lebih pada kecerdasan strategi dan persatuan di saat kritis daripada nasionalisme berlebihan.

Kesimpulan

Hansan: Rising Dragon adalah epik perang laut yang langka: megah tanpa berlebihan, intens tanpa kehilangan emosi, dan patriotik tanpa terasa propaganda. Penampilan karismatik Park Hae-il, visual pertempuran yang spektakuler, dan arahan Kim Han-min yang presisi membuat film ini layak disebut salah satu karya terbaik dalam genre historical action Korea. Jika kamu mencari film perang yang membuatmu tegang sepanjang durasi, kagum pada strategi militer, dan merasakan semangat persatuan, Hansan adalah tontonan wajib. Film ini tidak hanya menghibur—ia juga mengingatkan bahwa kemenangan besar sering lahir dari persiapan cerdas dan pengorbanan bersama. Nonton sekali saja mungkin tidak cukup—karena setiap kali menonton ulang, kamu akan semakin mengagumi kecerdasan Yi Sun-sin dan skala produksi yang luar biasa. Hansan bukan sekadar film perang; ia adalah perayaan atas kecerdasan, keberanian, dan semangat yang tak pernah padam di tengah badai terbesar.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *