Review Film Joker 2019: Dari Korban Jadi Penjahat Ikonik

Review Film Joker 2019: Dari Korban Jadi Penjahat Ikonik

Review Film Joker 2019: Dari Korban Jadi Penjahat Ikonik. Joker (2019) garapan Todd Phillips tetap jadi salah satu film paling berpengaruh dan kontroversial di era modern. Dengan Joaquin Phoenix sebagai Arthur Fleck, film ini bukan sekadar origin story villain DC—ini adalah studi karakter psikologis mendalam tentang bagaimana seseorang yang terpinggirkan bisa berubah menjadi simbol kekacauan. Rilis di tengah perdebatan panas soal kekerasan dan kesehatan mental, film ini malah jadi fenomena global: meraup lebih dari $1 miliar di box office, memenangkan banyak penghargaan termasuk Oscar, dan meninggalkan jejak yang masih dibicarakan hingga sekarang. Dari korban masyarakat yang diabaikan, Arthur Fleck naik jadi penjahat ikonik yang mengguncang Gotham—dan dunia nyata. INFO CASINO

Sinopsis dan Perjalanan Arthur Fleck yang Tragis: Review Film Joker 2019: Dari Korban Jadi Penjahat Ikonik

Cerita berlatar Gotham tahun 1981, kota yang sedang ambruk karena kemiskinan, pengangguran, dan ketidakadilan sosial. Arthur Fleck adalah badut pesta yang hidup bersama ibunya yang sakit, berjuang dengan gangguan mental termasuk tawa patologis yang tak terkendali. Ia bercita-cita jadi komedian stand-up, tapi hidupnya penuh penolakan: dipecat dari pekerjaan, dibully di jalanan, dan diabaikan oleh sistem kesehatan serta tokoh elit seperti Thomas Wayne.
Puncaknya datang setelah serangkaian kekerasan: Arthur membunuh tiga pria yang melecehkannya di kereta subway, tindakan yang malah membuatnya jadi pahlawan bagi sebagian warga miskin Gotham. Dari situ, ia mulai merangkul kekacauan—mengubah penampilan jadi clown merah-putih-hitam, melakukan pembunuhan live di acara Murray Franklin, dan memicu kerusuhan massal. Film menunjukkan transformasi itu bukan karena “jahat sejak lahir”, tapi akumulasi rasa sakit, pengabaian, dan kegagalan masyarakat. Endingnya ikonik: Arthur tertawa di truk polisi sambil melihat kota terbakar, menandai kelahiran Joker sebagai agen anarki.

Performa Joaquin Phoenix yang Mengubah Segalanya: Review Film Joker 2019: Dari Korban Jadi Penjahat Ikonik

Joaquin Phoenix memberikan penampilan terbaik dalam kariernya—dan salah satu yang paling mengesankan di sejarah film. Dengan berat badan turun drastis, gerakan kikuk, tatapan kosong, dan tawa paksa yang mengerikan, ia membuat Arthur Fleck terasa nyata dan menyedihkan. Phoenix tidak hanya memerankan villain; ia menunjukkan manusia rapuh yang hancur oleh dunia. Adegan tarian di tangga Bronx jadi simbol transformasi—dari kesedihan jadi penerimaan kegilaan.
Performa ini membawa Phoenix memenangkan Best Actor di Oscar 2020, Golden Globe, BAFTA, dan banyak lagi. Banyak kritikus bilang ini level baru untuk karakter Joker: bukan sekadar psikopat lucu, tapi korban yang berubah jadi monster karena trauma berkepanjangan. Phoenix menghabiskan waktu berbulan-bulan mempersiapkan peran, termasuk mempelajari gangguan mental dan gerakan badut, membuat setiap ekspresi dan gerakannya terasa autentik.

Kontroversi dan Dampak Budaya yang Masih Terasa

Sebelum rilis, Joker sudah jadi bahan perdebatan sengit. Banyak yang khawatir film ini memuliakan kekerasan atau menginspirasi copycat seperti insiden mass shooting. Beberapa bioskop tingkatkan keamanan, dan diskusi soal “incel culture” serta tanggung jawab film terhadap isu kesehatan mental ramai. Tapi setelah tayang, mayoritas setuju film ini bukan glorifikasi, melainkan kritik tajam terhadap ketidakadilan sosial dan kegagalan sistem.
Film ini memenangkan Golden Lion di Venice Film Festival, memimpin nominasi Oscar dengan 11 nominasi (menang 2: Best Actor dan Best Original Score Hildur Guðnadóttir), dan jadi film R-rated pertama yang tembus $1 miliar. Dampaknya besar: memicu obrolan tentang empati terhadap yang terpinggirkan, bahaya isolasi sosial, dan bagaimana masyarakat bisa “menciptakan” monster. Hingga sekarang, Joker 2019 sering disebut sebagai film yang paling relevan dengan kondisi dunia modern.

Kesimpulan

Joker 2019 sukses besar karena berhasil menggabungkan drama psikologis mendalam dengan elemen thriller yang intens. Dari korban yang diabaikan jadi penjahat ikonik, Arthur Fleck mengingatkan kita bahwa kegilaan sering lahir dari pengabaian berulang. Joaquin Phoenix membawa karakter ini ke level legendaris, membuatnya tak hanya villain, tapi cermin gelap masyarakat. Film ini bukan hiburan ringan—ini pengingat keras tentang empati, ketidakadilan, dan konsekuensi ketika seseorang ditinggalkan terlalu lama.
Meski kontroversial, Joker membuktikan bahwa cerita berani tentang kegelapan manusia bisa jadi blockbuster sekaligus karya seni. Todd Phillips dan Phoenix menciptakan sesuatu yang timeless: sebuah origin story yang tak hanya menghibur, tapi juga memaksa kita berpikir tentang dunia di sekitar kita. Jika ada satu film yang mendefinisikan akhir 2010-an, itu adalah Joker—dan transformasi dari korban jadi ikon kekacauan yang tak akan terlupakan.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *