Review Film Mickey 17: Bong Joon-ho Bikin Sci-Fi Gila. Mickey 17, film sci-fi black comedy terbaru dari Bong Joon-ho yang tayang sejak 7 Maret 2025, langsung jadi salah satu yang paling dibicarakan tahun ini. Disutradarai, ditulis, dan diproduksi oleh sutradara pemenang Oscar Parasite ini, film berdurasi sekitar 2 jam 17 menit ini mengadaptasi novel Mickey7 karya Edward Ashton. Robert Pattinson memerankan Mickey Barnes, seorang “expendable” yang dikloning setiap kali mati dalam misi kolonisasi planet es Niflheim tahun 2054. Dengan cast kuat termasuk Naomi Ackie, Steven Yeun, Toni Collette, dan Mark Ruffalo, film ini menyajikan satire tajam tentang kapitalisme, kolonialisme, dan identitas. Meski box office-nya moderat sekitar $133 juta secara global, visual gila, performa Pattinson yang multiple, dan gaya Bong yang khas membuatnya terasa seperti pengalaman sci-fi yang benar-benar out there. Bong Joon-ho memang bikin sci-fi gila—dan ini bisa jadi salah satu yang paling memorable di genre ini baru-baru ini. REVIEW FILM
Kekuatan Utama Film Mickey 17: Visual Gila dan Performa Robert Pattinson
Yang paling mencolok di Mickey 17 adalah visual dan konsep cloning yang dieksekusi dengan liar. Bong membangun dunia Niflheim dengan detail absurd: planet es yang dingin tapi penuh makhluk aneh, teknologi printer tubuh yang creepy, dan efek CGI yang seamless saat multiple Mickey muncul di layar. Adegan cloning berulang-ulang terasa seperti loop gila yang menghibur sekaligus mengerikan, dengan Pattinson memainkan variasi Mickey yang berbeda—dari versi polos, paranoid, hingga yang lebih berani. Performanya jadi bintang utama: dia bawa humor deadpan, kegilaan fisik, dan kedalaman emosional yang bikin penonton ikut merasakan eksistensial crisis-nya. Chemistry dengan Naomi Ackie sebagai rekan yang lebih grounded dan Steven Yeun sebagai teman setia menambah lapisan. Bong menyuntikkan satire politik tajam—termasuk parodi tokoh otoriter ala Mark Ruffalo—tanpa terasa preachy, plus elemen black comedy yang absurd seperti Mickey yang mati berkali-kali untuk “sains”. Skor Rotten Tomatoes sekitar 78-86% dari kritikus dan audience tinggi menunjukkan film ini sukses sebagai spectacle yang fun dan thoughtful.
Kelemahan Film Mickey 17: Tone yang Tak Konsisten dan Pacing: Review Film Mickey 17: Bong Joon-ho Bikin Sci-Fi Gila
Sayangnya, Mickey 17 bukan tanpa cela. Beberapa kritikus merasa tone-nya terlalu berubah-ubah: dari farce slapstick ke drama eksistensial, kadang terasa uneven dan bikin pacing lambat di bagian tengah. Cerita yang fokus pada cloning dan identitas terkadang kehilangan momentum saat beralih ke konflik kolonisasi atau alien encounter, membuat ending terasa kurang memuaskan bagi sebagian. Ada juga keluhan bahwa satire-nya terlalu broad atau on-the-nose, terutama elemen politik yang terasa dated meski timely. Box office yang tak meledak (opening sekitar $19 juta) menunjukkan film ini lebih niche daripada blockbuster massal—cocok untuk yang suka sci-fi cerdas, tapi mungkin terlalu weird bagi penonton kasual. Meski begitu, kelemahan ini tak mengurangi fakta bahwa Bong tetap berani ambil risiko besar setelah Parasite, dan hasilnya tetap entertaining.
Kesan Keseluruhan dan Dampak
Secara keseluruhan, Mickey 17 adalah sci-fi gila yang sukses jadi hiburan unik. Bong Joon-ho kembali ke kekuatan genre-nya dengan satire tajam, visual memukau, dan konsep cloning yang dieksplorasi secara liar. Robert Pattinson membuktikan lagi kenapa dia salah satu aktor terbaik generasinya—dia bawa multiple versi karakter dengan range luar biasa. Film ini bukan sekadar action atau drama biasa, tapi campuran absurd, gelap, dan lucu yang bikin penonton mikir tentang disposability manusia di era kapitalisme. Bagi fans Bong atau sci-fi seperti Snowpiercer, ini wajib tonton; bagi yang suka film ringan, mungkin terlalu intens. Dengan Metacritic sekitar 74 dan respons positif mayoritas, ini bukti Bong masih bisa surprise dengan ide-ide gila yang tak biasa.
Kesimpulan
Mickey 17 membuktikan Bong Joon-ho memang bisa bikin sci-fi gila yang memorable. Dengan Robert Pattinson yang brilian di multiple role, visual absurd yang memukau, dan satire yang tajam tentang identitas serta eksploitasi, film ini jadi salah satu sci-fi terbaik 2025 meski tak sempurna. Tone yang campur aduk dan pacing kadang goyah tak mengurangi pesonanya—ini pengalaman yang fresh, lucu, dan bikin mikir. Jika kamu siap untuk petualangan cloning di planet es dengan dosis kegilaan tinggi, jangan lewatkan. Bong kembali dengan gaya khasnya, dan hasilnya bikin ketagihan.